DREAMING WITH YOU
Cerpen NN
Senja selalu punya hubungan dengan awan merah bersemburat jingga.
begitu juga awan yang juga punya hubungan dengan langit luas nan elok.
Menyenangkan....
tapi,,hanya ada satu yang masih melekat mantap di otakku dan terekam dengan rapi.
ya,,Rumah sakit dan impian yang ada didalamnya......
"Hauh,,Ma,,capek nih" kataku sambil menguap.
Mama hanya geleng-geleng kepala.
"Jangan gitu dong ci, kita kesini kan mau jenguk tante ina" ujar mamaku lembut sambil membetulkan jilbab putihku. Aku hanya mangut-mangut kecil. Rasa sesal menyusup lembut dihatiku. Ya,,aku sangat menyayangi tante ina. Tante yang selalu ada untukku sejak aku kecil. Walaupun tante sudah penyakitan sejak kecil, tante hampir tak pernah bersedih. Baginya kesedihan hanya akan menambah beban.
"Assalamu'alaikum tante" ucapku girang ketika memasuki bangsal tante. Aroma ini begitu khas, karena dulu ketika kecil aku sering kesini. Aku menutup mataku. Ingatan itu kembali muncul. Ketika kecil aku pernah bertemu dengan seorang anak lelaki di bangsal anak di rumah sakit ini. Aku begitu ingat tatapan matanya ketika aku pertama berjumpa. Tajam namun penuh kehangatan. Aku tidak tahu pasti berapa umurnya. Tapi yang paling kuingat anak itu pernah melindungiku ketika aku hampir tertimpa sebuah nampan yang dibawa oleh seorang suster.
Aku nggak terlalu ingat. tapi setelah itu aku dengar teriakan dan suara panik suster dan darah berceceran dimana-mana. Sejak itu aku tidak pernah melihat anak itu lagi.
"Ci, kok ngelamun" Kata tante menyentakkan lamunanku.
"Ahhh gak kok, oh iya tante ichi mau jalan-jalan dulu ya nyari udara segar, lagi capek nih tan habis eksul di sekolah" Kataku dengan penuh semangat. Tante Ina hanya mengangguk kecil tanda persetujuan.
Aku memandangi setiap koridor yang kulewati. Rasanya tetap sama seperti dulu. Dingin, dan menakutkan. Sesekali ku coba mengintip aktivitas di setiap bangsal. Dan tentu saja yang paling membuatku kangen adalah bangsal bagian anak. Ku buka pintu putih yang dingin itu. Dari dalam langsung terdengar tawa riuh anak-anak. Mataku terfokus pada seseorang yang mereka kerubungi. Seorang cowok berambut keriting dengan mata coklat dan kulit putih dan senyum ramahnya sedang asyik menceritakan sesuatu pada mereka. Aku menajamkan pendengaranku. Samar-samar kudengar lelaki itu bercerita tentang Mimpi seorang cowok dengan seorang gadis yang disukainya dirumah sakit. "Dreaming with you" gumamnya diakhir ceritanya.
"Kakak sedang apa?" tanya seorang anak kecil mengagetkanku. Spontan seluruh mata tertuju padaku. begitu juga dengan cowok itu. Tapi aneh mata cowok itu yang tadinya ramah berubah dingin dan tajam...
dia lalu berkata sinis "Kamu siapa dasar penganggu"
Wajahku terasa memanas. Ingin rasanya aku marah tapi aku malu. Aku lalu berbalik dan hendak pergi.
"Tunggu" terdengar suara cowok itu lagi.
"Siapa yang nyuruh kamu pergi, mulai besok kamu wajib kesini" katanya cuek lalu meninggalkanku yang masih terheran-heran.
Ada apa sih ini?
bersambung....
tunggu kelanjutannya ya....
DIBAWAH SENYUMAN HUJAN
Oleh NN
Waahh...ternyata aku terlalu
asyik mengerjakan beberapa kerjaan kantorku, sampai-sampai aku tidak
sadar kalau diluar sana telah turun hujan deras. Ups!! spontan aku
melongo kearah luar , ku hentikan jari-jariku yang dari tadi sibuk
memencet-mencet tombol komputerku. Dan mulailah kedua tanganku menopang
daguku. Ku lihatin air hujan yang terus menerus turun dari langit
itu...dan ku resapi setiap detakan suara yang keluar dari hujan itu.
Subhanallah.... suara hujan itu menenangkan fikiranku. Dan masih dalam
tatapan kagumku.... aku tersenyum tersipu malu, tiba -tiba saja hatiku
berujar...aahhh....hujan itu telah mengingatkanku tentang perjalanan
kasih aku dan dia. Waktu itu.... tepatnya hari weekend, kami berdua
menyempatkan diri untuk berjalan-jalan walau hanya sekedar reflesing
alias cuci mata. Tanpa terasa waktu terus berlalu dan mengharuskan kami
untuk segera pulang. Taaapiii.... setibanya kami didepan pintu keluar,
eehh...ternyata diluar hujan deras.
Kami pun saling berpandangan seolah-olah mata kami saling memberikan isyarat,
"o..o..hujan...kayak mana kita mau pulang yach..??".
Dengan sabar kami pun menunggu hujan itu reda sambil bercerita hal-hal yang lucu. Akhirnya hujan pun reda juga, dan kami segera beranjak dari tempat itu dan kembali pulang. Selang beberapa hari kemudian setiap kali kami jalan berdua..selalu saja hujan turun, bahkan saat kami berada tepat ditengah jalan yang kami lalui. Mau tidak mau akhirnya kami pun kebasahan. Ternyata aku maupun dia, kami sama-sama menyimpan pertanyaan yang sama pula,
"kenapa yach...setiap kita jalan berdua... pasti selalu saja turun hujan".
Sampailah pada suatu hari, dimana dia akan melaksanakan sidang skripsinya, dia memintaku datang untuk melihat dan memberi semangat padanya. Waktu itu hari begitu terik, seakan-akan matahari tepat berada diatas kepalaku. Dengan langkah cepat aku pergi kekampusnya berharap aku tidak ketinggalan melihatnya mepresentasikan skripsinya. Sampailah aku disana, dengan tersenyum kecil aku menoleh kearahnya berisyarat....
"ayo cynk..semangat...kamu pasti bisa".
Tak terasa hari semakin sore, namun kegiatan itu belum juga berakhir bahkan akan disambung lagi setelah magrib. Entah kenapa... mataku ingin menatap langit sore itu. Waaahh...ternyata langit sudah mendung, hhhmm...sepertinya akan turun hujan lagi, fikirku". Bergegas ku menghampirinya dan berkata,
"masih lama lagi yach cynk???sepertinya bakalan hujan lagi hari ini, dan bisa-bisa kita kehujanan lagi pulangnya".
Dia justru membalas dengan senyuman genit, dan malah menggoda ku dengan kata-kat,
"tenang cyg..kan ada payung cinta kita, hhmm..tapi suka kan kalau hujan-hujan..biar bisa sekalian mandi hujan, iya kan???".
Spontan saja wajahku memerah kayak tomat. Magrib pun selesai dan kegiatan dilanjutkan kembali. Satu persatu pesertanya maju dan akhirnya selesai juga. Taaapii...tiba-tiba terdengar suara gemuruh, tak lama kemudian suara hujan menyusul. Semua orang yang ada disana pada mengomel-ngomel sendiri karena hujan turun disaat semuanya hendak pulang kerumah masing-masing. Tuh kan...beneran turun lagi hujannya, gumamku. Yaahh...sekali lagi mau tak mau kami pun menunggu hujan itu reda. Satu jam, dua jam, dan tiga jam berlalu, hujan itu belum juga reda, sementara malam semakin larut. Akhirnya kami sepakat untuk tetap pulang dengan menerobos hujan itu. kami berlari meninggalkan kampus itu menuju persimpangan untuk menunggu angkot yang akan kami naiki (maklum..saat itu kami belum punya kereta...hihihi).
Kami pun saling berpandangan seolah-olah mata kami saling memberikan isyarat,
"o..o..hujan...kayak mana kita mau pulang yach..??".
Dengan sabar kami pun menunggu hujan itu reda sambil bercerita hal-hal yang lucu. Akhirnya hujan pun reda juga, dan kami segera beranjak dari tempat itu dan kembali pulang. Selang beberapa hari kemudian setiap kali kami jalan berdua..selalu saja hujan turun, bahkan saat kami berada tepat ditengah jalan yang kami lalui. Mau tidak mau akhirnya kami pun kebasahan. Ternyata aku maupun dia, kami sama-sama menyimpan pertanyaan yang sama pula,
"kenapa yach...setiap kita jalan berdua... pasti selalu saja turun hujan".
Sampailah pada suatu hari, dimana dia akan melaksanakan sidang skripsinya, dia memintaku datang untuk melihat dan memberi semangat padanya. Waktu itu hari begitu terik, seakan-akan matahari tepat berada diatas kepalaku. Dengan langkah cepat aku pergi kekampusnya berharap aku tidak ketinggalan melihatnya mepresentasikan skripsinya. Sampailah aku disana, dengan tersenyum kecil aku menoleh kearahnya berisyarat....
"ayo cynk..semangat...kamu pasti bisa".
Tak terasa hari semakin sore, namun kegiatan itu belum juga berakhir bahkan akan disambung lagi setelah magrib. Entah kenapa... mataku ingin menatap langit sore itu. Waaahh...ternyata langit sudah mendung, hhhmm...sepertinya akan turun hujan lagi, fikirku". Bergegas ku menghampirinya dan berkata,
"masih lama lagi yach cynk???sepertinya bakalan hujan lagi hari ini, dan bisa-bisa kita kehujanan lagi pulangnya".
Dia justru membalas dengan senyuman genit, dan malah menggoda ku dengan kata-kat,
"tenang cyg..kan ada payung cinta kita, hhmm..tapi suka kan kalau hujan-hujan..biar bisa sekalian mandi hujan, iya kan???".
Spontan saja wajahku memerah kayak tomat. Magrib pun selesai dan kegiatan dilanjutkan kembali. Satu persatu pesertanya maju dan akhirnya selesai juga. Taaapii...tiba-tiba terdengar suara gemuruh, tak lama kemudian suara hujan menyusul. Semua orang yang ada disana pada mengomel-ngomel sendiri karena hujan turun disaat semuanya hendak pulang kerumah masing-masing. Tuh kan...beneran turun lagi hujannya, gumamku. Yaahh...sekali lagi mau tak mau kami pun menunggu hujan itu reda. Satu jam, dua jam, dan tiga jam berlalu, hujan itu belum juga reda, sementara malam semakin larut. Akhirnya kami sepakat untuk tetap pulang dengan menerobos hujan itu. kami berlari meninggalkan kampus itu menuju persimpangan untuk menunggu angkot yang akan kami naiki (maklum..saat itu kami belum punya kereta...hihihi).
Aku memandanginya lalu bertanya apa artinya. Kemudian dia menjelaskan, UTJAN itu adalah HUJAN. Karena kita berdua sering kehujanan, jadi nama itu saya hadiahkan untuk cyg. Berharap saat memanggil nama itu, semua kenangan harini tidak pernah terlupakan, saat kita berdiri kedinginan dibawah senyuman hujan serta terciptanya nama UTJAN. Angkot yang kami tunggu pun akhirnya datang, dan kami segera pulang.
HADIRMU ADALAH KETERKEJUTANKU
Oleh NN
Awal aku berkenalan denganmu saat itu aku sedang memasuki tahun kedua dan baru saja beberapa bulan putus dari mantan pacarku yang – kalau tidak salah ingat – hanya berumur empat bulan. Dengan alasan yang sepele dan tidak logis aku memutuskan hubungan itu. Entahlah, mungkin saat itu aku sedang mangkat-mangkatnya dengan segala kesempurnaan yang aku punya sehingga meremehkan hubungan yang ada.
Sebagai pihak yang memutuskan memang aku tidak tahu bagaimana rasanya berada di pihak yang diputuskan; bagaimana rasanya ingin selalu tetap bersama orang yang disayangi; bagaimana rasa sakitnya menerima keputusan dari orang yang disayang. Kuakui saat itu memang egois. Sebenarnya diriku sendiri jauh dari kata ‘sempurna’ seperti orang-orang yang memang mendapatkan predikat itu. Sempurna yang aku maksud di sini adalah aku dengan lingkungan sosialku; aku dengan kegiatan perkuliahanku; aku dengan segala aktivitasku; aku dengan adrenalin yang memompaku untuk terus menerus bergerak. Aku yang cukup mandiri dan tak mau ditentang; aku yang selalu benar dan tidak mau disanggah. Tak ayal kehidupanku dengan lawan jenis pun juga sedang gencar-gencarnya. Keakuan dan darah mudaku. Ya itulah aku. Tapi itu dulu sebelum bertemu seseorang yang mengajarkanku tentang kehidupan yang sebenarnya. Perubahan drastis yang benar-benar berbeda antara aku dulu dan sekarang. Satu kalimat bijak yang selalu kuyakini,
“Suatu akhir merupakan sebuah awal perjalanan baru”.
Aku cukup ingat bagaimana kita berkenalan, mungkin bisa dikatakan agak sedikit aneh. Perkenalan itu terjadi melalui pesan singkat yang masuk di kotak masuk telepon selulerku (ponsel). Tanpa basa basi kamu langsung mengajakku berkenalan dengan menyebutkan nama, umur dan tempat tinggalmu. Hanya keterkejutan yang aku dapatkan. Keterkejutan itu diantaranya adalah pertanyaan-pertanyaan tentang kamu dapat dan tahu dari mana nomor ponselku, karena selama aku punya ponsel beserta nomornya, aku tidak pernah menggunakan untuk hal-hal yang kuanggap norak atau kampungan seperti kenalan. Keterkejutan yang dibarengi dengan keanehan. Tapi sudahlah, seandainya saat itu aku tidak menanggapimu, aku tidak akan benar-benar bisa belajar tentang arti hidup sebenarnya; tentang kehidupan cinta khususnya.
Perkenalan dan keanehan pun berlanjut, hingga akhirnya kamu intens menghubungiku dan juga sebaliknya. Dengan kesadaran tinggi bahwa perkenalan kita yang cukup aneh tapi tetap saja komunikasi dilakukan. Kita yang berbeda hampir 12 tahun dari usia masing-masing pun tidak jadi penghalang dalam komunikasi, karena memang bukan itu alasanku untuk mempunyai banyak teman. Kamu yang begitu mempunyai wawasan luas; kamu yang tidak membosankan ketika berdiskusi; kamu yang menyenangkan dalam batasan candamu. Kamu yang bisa mengontrolku tanpa harus mengekang; kamu yang bisa diandalkan dalam menyelesaikan masalah dan memberikan solusi melalui beberapa pilihan tanpa memaksakan kehendak. Kamu yang selalu bisa membuatku terkagum-kagum dengan pembawaan apa adanya. Aku seakan menajadi salah satu fans berat kamu saat itu.
Semua hanya masalah waktu. Tibalah saat itu, untuk pertama kalinya kita bertemu. Janji temu yang dilakukan ditempatmu, daerah Jakarta Selatan bersebrangan dengan Taman Makam Pahlawan. Rumah dengan beberapa kamar kost, satu dapur dan halaman yang agak luas, cukup untuk memarkir beberapa kendaraan di sana. Kostanmu dengan kamarnya berukuran 5 x 6 meter dan dilengkapi tempat tidur yang cukup untuk satu orang serta televisi 14 inch, kipas angin, sebuah kulkas, lemari pakaian dan beberapa perlengkapan lainnya. Untuk pertama kalinya juga aku melihat penampakanmu yang menjemputku tepat dimana kita janjian untuk bertemu di depan Taman Makam Pahlawan. Kamu yang saat itu hanya mengenakan kaos dalaman putih dan bercelana pendek dengan postur tubuh yang lebih tinggi sedikit dari aku, berkulit putih bila dibandingkan denganku, berperawakan tegas dan terlihat santun. Sejjurnya saat itu juga yang ada dibenakku adalah apa yang aku lakukan hingga bisa mendatangi dan menyetujui janji temu ini? Pikiran bodoh yang selalu timbul di saat-saat terkahir setelah kejadian.
Perasaanku saat bertemu dengan kamu bagaikan seorang peserta yang sedang mengikuti acara disalah satu televise dimana peserta diminta untuk membuktikan apakah terdapat makhluk lain selain manusia di sebuah tempat menyeramkan dan hanya ditemani sebuah lilin. Iya, seperti itulah perasaanku. Asing karena berada di tempat kamu, ketar ketir karena mungkin saja aku berkenalan dengan seorang psikopat. Namun dilain hal niat baikkulah yang menenangkanku dan biasanya memang benar, apa yang kita niatkan di awal tentang kebaikan maka akan berakhir baik pula.
Lucu sekali bila kuingat momen pertemuan itu. Semua cara dan pembawaanmu yang tidak jauh berbeda seperti saat di telepon atau pesan singkat. Sejam, dua jam hingga aku tersadar matahari pun sudah mulai akan berpamitan kepada dunia. Kebersamaanku denganmu pun harus disudahi. Apakah aku mulai nyaman berada deketmu? Sampai sanggup berlama-lama dan tak sadar akan waktu. Atau mungkin waktu yang terlalu berjalan sangat cepat? Sampai-sampai aku tak sempat merasakan detiknya.
Baru saja kuberdiri untuk berpamitan, tiba-tiba tanganku menyambar tanganku dan mata kita sudah bertatapan tajam satu sama lain. Lalu dengan nada suara yang serius kamu mulai berkata, “Dari awal kita berkenalan dengan ketidaksopananku dan di sana ada proses aku mengenalmu aku merasakan hal yang berbeda yang aku sendiri sulit untuk menjelaskannya, entah apa itu, saat ini mungkin adalah waktu yang tepat bahwaku benar-benar sayang kamu dan aku mau jadi lelakimu untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Kamu mau terima aku?”. Layaknya seseorang yang sedang ditantang untuk menaiki bungy jumping. Jantung kamu terpacu kencang mulai dari saat menaiki kereta (lift) menuju ke atas untuk sampai di tempat yang tingginya hampir 200 meter dari tanah dan petualangan tidak berhenti di situ. Setelah sampai di atas kamu akan di ikat kakinya dengan pegas berukuran besar dan lompatlah kamu. Itulah yang dapat aku gambarkan ketika menerima ucapannya. Ucapan yang tidak pernah ada dalam pikiranku bahkan tidak pernah kuprediksikan sebelumnya. Dan aku hanya meresponya, “Beri aku waktu untuk menjawab. Aku janji secepatnya aku akan kabari kamu.” Kemudian kamu pun mengantar dan menungguiku sampai naik angkutan umum dengan nomor yang sama yang membawaku ke tempatmu tadi.
Dua hari, iya, dua hari cukup bagiku untuk memastikan tentang perasaanku padamu. Aku semangat sekali hari itu. Dan kamu pun tak henti-hentinya menjalan komunikasi yang lebih intens lagi dari sebelumnya, mulai dari kemarin lusa pada saat di jalan menuju rumah hingga sampai di rumah. Serta seharian lalu. Menyenangkan rasanya. Aku meminta kamu untuk dating ke rumahku. Rumahku yang letaknya di Tangerang dekat dengan Sekolah Tinggi Adminitrasi Negara; rumahku yang ditinggali orang-orang tersayang dan mungkin saja kamu akan menjadi bagian dari orang-orang tersayang itu. Itu cuma kemungkinan kecil saja. Mendekati waktu isya, kamu sudah sampai dirumahku; bertamu. Aku sudah bisa mengetahui apa yang kamu rasakan saat itu. Persis seperti saat aku pertama kali dating ketempatmu. Luar biasa deg-degan bukan?
Satu persatu kuperkenalkan anggota keluargaku. Sehauh yang kulihat tanggapan mereka positif mengenaimu. Sejauh itu pula aku melihat bentuk mukamu yang gelisah dan tak sabar untuk tahu tentang jawabanku atas pertanyaanmu kemarin lusa. Waktu bertamu pun usai. Kamu makin kelihatan putus asa dan tak bersemangat. Pembicaraan seperti terpaksa. Di penghujung malam itu aku sembari menemanimu yang pamit pulang kuantar hingga depan pagar rumah. Dan sebelum kamu mengucapkan sesuatu, yang mungkin ucapan untuk berpamitan pulang, aku secara reflex menggapai tanganmu seperti yang kamu lakukan dulu, lalu.. “Aku mau kamu menjadi lelakiku. Aku mau kit apunya hubungan yang serius. Hanya aku dan kamu.”. Kamu tahu? Rona wajahmu langsung berubah mirip orang yang mendapatkan hadiah lotere dengan kesetiaan menunggu yang luar biasa. Tidak dapat dipungkiri bahwaku juga merasakan hal yang sama. Lalu dengan rasa sayang dan lembut kecupan bibirmu sudah ada di keningku. Dan malam itu akan menjadi malam yang bersejarah yang selalu akan kita ingat ditemani dengan cerahnya bulan dan bintang serta sebuah saksi bisu yaitu pagar rumahku. Keyakinan akan tertidur lelap dan bermimpi tentang kita sudah dapat dipastikan akan terjadi.
Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tak terasa sudah hamper dua tahun kita menjalani hubungan ini. Tahun pertama di hari jadi kita, kamu menghadiahi aku sebuah kamera digital dan foto kita saat kencan pertama di sebuah restoran yang secara diam-diam entah siapa yang mengambil gambar itu. Tahun kedua kamu memberikan kejutan lain, kamu memberikan sepasang cicin yang di dalam lingkarannya terdapat inisial aku dan kamu. Dengan tulus kamu mengatakan bahwa ingin mempunyai hubungan ke tahap selanjutnya yang lebih serius. Kamu selalu punya cara meberikan kejutan-kejutan dalam hubungan ini. Kespontanitasan kamu yang membuatku menilai bahwa ku tak pernah salah menerimamu sebagai lelakiku saat itu.
Kedekatanmu dengan keluargaku semakin membulatkan keyakinanku bahwa kamulah orangnya. Kamu yang tanpa kuketahui ternyata punya keahlian memasak ketika kumain ke kostanmu. Itu membuatku terkejut. Kamu yang tiba-tiba dating ke tempat perkuliahanku hanya untuk makan siang bersama-sama. Itu membuatku terkejut. Kamu yang ketika itu mengetahui aku kurang sehat dengan rela menemani dan setia merawatku meskipun aku pasti akan sehat lagi. Itu membuatku terkejut. Kamu yang ternyata juga banyak kesamaan dalam hal musik, tontonan dan tak pernah mengeluh ketika ku ajak belanja-belanja. Sampai-sampai kita punya lagu untuk kita. Segalanya tetap membuatku terkejut.
Luar bisanya kesabaran yang kamu punya dalam menanganiku adalah hal terbesar mengapa aku di sini bersamamu; mengapa hubungan ini tetap bertahan. Ada kamu, aku ada. Mirip salah satu judul film Indonesia. Tapi memang benar adanya. Aku mungkin bukan siapa-siapa tanpa kamu; aku mungkin tidak akan menemukan jati diri tanpa kamu.
Banyak hal sudah kita lalui selama dua tahun hubungan yang kita jalin. Sekarang memasuki tahun ketiga aku masih tak punya ide apa yang kamu lakukan di hari jadi kita nanti. Impianku hanya satu dan tidak terlalu muluk. Aku ingin kamu terus ada disampingku dan terus menjadi lelakiku yang apa adanya kukenal awal lalu. Dan semoga hubungan yang kita jalin ini selalu dberkahi. Itu saja tidak lebih.
Terlalu banyak makna cinta dari tokoh-tokoh terkenal atau bahkan orang-orang awa, dengan versinya masing-masing. Sedangkan aku sendiri punya makna tentang cinta dari dulu hingga sekarang. Cinta adalah ‘saling’. Makna yang menggantung dan plural. Makna yang aku berikan pada cinta tidak melulu tentang hal-hal positif. ‘Saling’ disini adalah saling mengerti, slaing dukung, saling menghargai, saling percaya, saling sayang, saling melindungi, saling kecewa, saling berbohong, slaing menyakiti dan masih banyak lagi lainnya. Terlepas dari itu semua, aku hanya inginkan kamu di hidupku dan terus mengajariku tentang banyak hal.
INGIN KAMU
Cerpen NN
semenjak itu aku tlah lama mengambil cara yang hebat untuk mengelola arti keinginan memiliki .
tetap sayang dan tidak akan pernah hilang sedikit pun .
entah mengapa perasaan ini semestinya hadir selalu dihatimu , mengapa harus aku yang memulai .
aku disini menunggumu ... dengan sebutan namamu ...
sadarku !! kau lah orang terpenting dalam hidupku ... kurindukanmu !
mencari kesadaran dalam ketulusan cintamu , membuatku yakin dan berniat tuk selamanya bersama .
tercipta kata "tak ingin jauh darimu" namun mengapa terkadang kau memutar bait sebuah kata .
ku tak pernah mengekang untuk memberikan waktu untuk kau pergi.
bukan aku tak mengizinkanmu dekatinya .
hanya saja perasaan ku seperti rumus yang sulit menebak dirimu .!!
pagi itu pun aku menelusuri dimanakah dirimu berada ?? dengan siapa ?? sedang berbuat apa?? resahku memikirkanmu .
kuciptakan bait puisi , cerpen , lagu berkisah antara kau dan aku.
YA ALLAH S.W.T didiklah cinta karena mu ini , berikan keromantisan dan kehangatan juga ketentraman hati yang membuat spirit dalam hidup ini amin ,,, karena kau lah pemilik cinta jagalah cinta kita .
MAHKOTA EDELWISE
Cerpen NN
“Kalau sudah besar, aku mau
nikah sama kamu,” kata-kata polos itu meluncur begitu saja dari bibir
mungil Kevin. Matanya memandang lekat ke arah gadis kecil di sampingnya.
Nadin
tertegun. Tangannya yang tadi sibuk menyisir rambur barbie menggantung
di udara. “Aku nggak mau nikah!” putus Nadin, lalu melanjutkan
kegiatannya yang sempat terhenti.
Kevin
ngambek mendengar penolakan Nadin. Bibirnya mengerucut. “Kenapa?”
dengan paksa Kevin menarik tangan Nadin, meminta perhatiannya.
Nadin
kesal dipaksa-paksa seperti itu. Dihempaskannya tangannya sampai sisir
di tangn kanannya terlempar. “Aku nggak mau nikah! Aku nggak mau kayak
ayah sama bunda yang selalu bertengkar, lalu akhirnya berpisah. Aku
nggak mau kayak bunda yang setiap malam selalu nangis gara-gara ayah.
Puas!”
Kini giliran Nadin yang
ngambek. Kevin kelimpungan bagaimana caranya membuat Nadin kembali
tersenyum. Matanya mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk
membujuk Nadin. Pandangannya tertuju pada segerombolan bunga edelweis.
Dipetiknya satu bunga yang menurutnya paling cantik.
Nadin membuang mika saat Kevin menyodorkan bunga ke hadapannya.
“Kamu tau nggak, ini namanya bunga edelweis...”
“Aku tahu!”jawab Nadin ketus. Dia merasa dianggap bodoh tidak tahu nama bunga yang sudah dikenalnya sejak kecil itu.
Melihat respon Nadin, Kevin jadi salah tingkah. “Maksudku, kamu tahu nggak, kalau edelweis juga disebut bunga keabadian.”
Nadin mulai tertarik. Bunga keabadian? Pelan-pelan dia menghadapkan wajahnya ke arah Kevin.
Kevin
girang dalam hati melihat Nadin tidak secuek tadi kepadanya. “Jadi
gini, orang-orang menyebut bunga edelweis adalah lambang keabadian,
karena b unga ini nggak akan layumeski disimpan berapa lamapun.”
“Meski dipetik?”
“Meski kamu memetiknya dan menyimpannya tanpa akar.”
Nadin mengambil edelweis dari tangan Kevin. Diamatinya bunga mungil itu. “Cantik,” gumamnya.
“Aku
punya yang lebih cantik dari itu,” Kevin meraih sesuatu dari
punggungnya. Mata Nadin berbinar melihat apa yang ada di genggaman
Kevin. Sebuah mahkota mungil yang terbuat dari sulur-sulur tanaman
dengan hiasan bunga-bunga edelweis yang diselipkan di antaranya.
Mulut
Nadin ternganga tapi tak mampu mengeluarkan satu katapun. Kevin
meletakkan mahkota yang telah dibuatnya sepanjang malam itu di atas
kepala Nadin. Senyum puas tersungging di wajahnya.
“Selama kamu masih menyimpan mahkota itu, selama itu pula aku akan terus bersama kamu. Nggak akan pernah ninggalin kamu...”
“Aduh, sampai kapan sih kamu
terus mandangin Kevin sama Putri jalan bareng sementara kamu yang sobat
kentalnya Kevin nggak pernah berani ngomong cinta?” cerocos Ersa saat
istirahat di dalam kelas yang hanya ada mereka berdua.
“Hah? Maksud loe?” Nadin kegap merasa dituduh seperti itu.
“Aduh, Say, kamu pikir selama ini aku nggak tahu kamu diem-diem ada hati sama Kevin?”
“Aku masih nggak ngerti.”
“Nggak
usah pura-pura bego’ deh. Langsung samperin si Kevin, bilang cinta ke
dia. Dan aku yakin, Putri akan langsung ditendangnya jauh-jauh.”
Nadin
menghembuskan napas berat. Menyadari tak mungkin menyembunyikan sesuatu
dari Ersa yang sudah mengenalnya luar dalam itu. “Nggak mungkin lah,
Sa. Kevin itu cinta banget sama Putri. Kalau aku ngomong jujur ke dia,
yang ada malah persahabatanku sama dia terancam bubar.”
“Tahu dari mana kamu kalau Kevin beneran cinta sama Putri?”
“Kevin sendiri yang cerita ke aku. Tiap kami jalan bareng, yang diomongin Putri, Putri, mulu.”
“Ye,
itu elonya aja yang bego’. Kevin kayak gitu kan buat manas-manasin kamu
aja. Kamu juga sih yang terlalu kaku sama Kevin. Sok jual mahal lah,
sok mentingin pelajaran lah.”
“Aku emang menomorsatukan sekolah kok.”
“Iya, tapi bukan berarti nyuekin sobat kamu sendiri kan. Giliran dia pergi aja, kamu kelimpungan mencarinya.”
Siaul. Bener banget sih!
Nadin
sendiri tidak tahu siapa duluan yang berubah. Tiba-tiba mereka dewasa
dan sibuk dengan rutinitas masing-masing. Saat mereka SMP, dia merasa
Kevin masih miliknya. Hanya ada mereka berdua dan tidak ada orang lain
dalam obrolan mereka. Tapi Nadin peempuan. Perkembangan hormonnya tumbuh
lebih cepat. Dia ingin lebih diperhatikan. Dan caranya menarik
perhatian Kevin adalah dengan marah. Itu yang biasa dia lakukan sejak
kecil. Saat Nadin marah, entah karena dirinya atau sesuatu yang lain,
Kevin akan mati-matian mencari cara agar Nadin kembali tersenyum.
Tapi
lama-lama jurus itu tak lagi ampuh. Kevin mulai bosan dengan sikap
Nadin yang gampang ngambek. Setiap Nadin menunjukkan gelagat akan marah,
Kevin langsung kabur. Lebih dari itu, Kevin sering membicarakan
teman-teman mereka, khususnya cewek-cewek.
“Tau
nggak, Nad, si Lala itu cantik banget ya. terus si Meggie itu, wuih,
kalau senyum manis banget. Monic juga, udah cantik, pinter lagi, bla...
bla... bla...”
Nadin kesal.
Ternyata bukan hanya dia seorang satu-satunya cewek di mata Kevin. Ada
Lala, Meggie, Monic, dan cewek-cewek nggak jelas lainnya. Setiap kali
Kevin menyebut nama cewek-cewek itu, Nadin akan langsung kesal. Kevin
yang tidak tahu penyebab Nadin marah membiarkan sahabatnya itu pergi
begitu saja.
Tidak ada lagi permintaan maaf. Tidak ada lagi rayuan. Tidak ada lagi bunga edelweis...
Nadin
kesal bukan karena cewek-cewek yang disebutkan Kevin. Tapi dia merasa
Kevin telah melupakan janji masa kecilnya untuk selalu bersama Nadin.
Apakah janji itu tak pernah punya arti? Seperti rengekan bayi yang
langsung lenyap begitu disodori lilypop? Atau, Kevin memang masih
memegang janjinya? Buktinya mereka masih bersama kan? Kevin dan Nadin
masih berangkat dan pulang sekolah bareng. Masih sering menghabiskan
waktu luang bersama. Tapi tak pernah lebih dari itu...
“Ini satu-satunya kesempatan
kamu,” Ersa menyodorkan selembar pamflet di meja yang di duduki Nadin.
Nadin membaca judulnya: PROMNITE PARTY
“Maksudnya?”
“Ya elah nih anak. Ya kamu ajak Kevin lah buat jadi pasangan kamu.”
“Kevin pasti ngajak Putri.”
“Nggak bakal. Di sini persyaratannya cewek yang harus ngajak cowok.”
“Apa
bedanya coba. Toh itu cuma buat seru-seruan aja. Lagian kalau hanya
gara-gara persyaratan konyol itu Kevin nggak bisa ngajak Putri, Putri
yang akan ngajak Kevin.”
“Taruhan, Putri nggak akan ngejatohin harga dirinya untuk ngajak cowok duluan.”
“Jadi maksud kamu, aku tipe cewek yang nggak punya harga diri, gitu?”
“Bukan
gitu, Say. Nih anak sensi banget sih. Maksud aku tuh, kalian kan udah
lama berteman, jadi nggak ada gengsi-gengsian lagi dong. Tinggal membuat
obrolan ringan, lalu ajak deh,” Ersa menaik turunkan alisnya. Merasa
idenya ini brilian sekali. Urgh!
“Nggak!”
tegas Nadin. Gila aja nurutin idenya Ersa. Mending nggak usah dateng
sekalian ke acara dansa-dansi nggak penting kayak gitu.
Tapi
ternyata Nadin salah. Tiga hari menjelang acara promnite itu, seluruh
teman-temannya heboh membicarakannya. Mulai dari curhat belum nemuin
pasangan yang pas, masalah gaun warna apa yang pantesnya dipakek, sampai
janjian ke salon jam satu siang padahal acara baru akan dimulai pukul
delapan malam. Helo... emang mau operasi plastik ya? heboh banget.
Dan
sialnya hanya Nadin seorang yang berpikiran jelek tentang promnite.
Teman-temannya malah berbalik menghina saat dia memaparkan betapa tidak
pentingnya pesta dansa.
“Halah, Nad, jangan mentang-mentang nggak ada yang mau kamu ajak, nggak perlu sewot gitu kan.”
“Nadin, kamu tuh sebenarnya cantik. Tapi kamu terlalu kutu buku.”
Itu masih mending, ada hinaan yang lebih sadis. “Nadin nggak suka cowok ya?” jedieng! Nadin langsung mati gaya.
Tentang
Kevin, dia hanya pernah sekali membahas soal promnite saat mereka
pulang sekolah bareng. “Nad, temen-temen pada heboh ya membahas masalah
promnite. Mungkin karena ini pesta dansa baru pertama ini diadain di
sekolah kita kali ya. kamu kepikiran buat dateng nggak? Udah ngajak
cowok belum?”
Nadin diam, tak
menanggapi omongan Kevin. Kevin lalu menyingkap rambut yang menutupi
telinganya. “Ya, pakek headset, pantesan aku dicuekin,” Kevin lalu
mempercepat langkahnya.
Sebenarnya
Nadin mendengar jelas setiap kata yang diucapkan Kevin, karena tidak
ada satu lagupun yang dia putar. Itu hanya kamuflase karena Nadin
sebenarnya tidak ingin mendengar cerita Kevin kalau Putri trlah
mengajaknya ke pesta dansa itu.
Kevin meraih hpnya yang berdering, “Yap?”
“Kevin,
nanti malam kamu mau pakek baju warna apa?” terdengar suara nyaring
Putri di ujung telepon. “biar aku bisa samain warnanya sama gaun aku.”
“Baju? Buat apaan?”
“Aduh, Sayang, kamu lupa ya? pesta dansanya kan ntar malam. Jangan-jangan kamu juga lupa buat nyiapin kostum ya?”
“Lho, emang kamu ngajak aku ya? Kapan ngomongnya?”
“Kamu
gimana sih? Tentu aja aku akan pergi ke acara promnite sama kamu, kamu
kan cowok aku. Nggak usah aku ajak pun udah pasti kan.”
“Tunggu, tunggu. Cowok? Kapan jadiannya?”
“Kamu
nyebelin banget sih. Emang pacaran harus nunggu tembak-tembakan dulu
ya? kita kan udah sering jalan bareng. Aku pikir selama ini kita...”
“maaf, Putri. Kayaknya kamu salah ngerti deh. Aku aja baru mau PDKT. Jadi kita belum pacaran.”
“Kamu
jahat ya, Kev. Tau gini kemaren aku trima ajakannya Dion,” Putri
menghentikan ucapannya sebentar. “Udah deh, batalin aja niat PDKT kamu
itu, toh aku nggak bakalan nrima kamu!” tut... tut... tut...
Kevin
tertegun, kaget juag denget Putri bisa ngomong kasar kayak gitu. Dia
memandang ke jam dinding di kamarnya. Beberapa jam lagi pesta dansa di
sekolahnya akan dimulai. Dan Kevin sama sekali tak mempunyai rencana.
Sebenarnya ada satu cewek yang dia harap akan mengajaknya. Tapi
seeprtinya cewek itu tak tertarik.
“Tapi aku hanya punya kesempatan malam ini saja,” putus Kevin akhirnya. Diraihnya kunci motor lalu melesat ke luar rumah.
Nadin kaget saat membuka pintu dan menemukan wajah Kevin di sana.
“Kamu mau kan jadi pasanganku di promnite?” todong Kevin seketika.
Nadin hampir kesedak, tapi dia berusaha memasang wajah tetap cool, “Bukannya diperaturannya cewek yang harus ngajak cowok ya?”
“Hah, persetan dengan peraturan. Kamu mau kan?”
Ingin sekali Nadin bersorak ‘aku mau’, tapi ego membuatnya menelan kata-kata itu. “Aku nggak punya gaun,” katanya datar.
“Sudah kuduga,” Kevin lalu memberikan bungkusan ke tangan Nadin.
“Ini...”
“Aku kasih waktu setengah jam, buruan dandan,” Kevin mendorong punggung Nadin agar masuk ke rumah.
Nadin sendiri baru menyadari kalau pakaian Kevin sudah sangat rapi, “Lima belas menit,” teriaknya.
Kevin tertegun. Dia seperti
melihat kembali gadis kecil teman mainnya dulu. Dia berdiri di hadapan
Kevin, mengenakan gaun ungu muda selutut dan di kepalanya terdapat
mahkota dengan hiasan bunga-bunga edelweis. Hanya saja sekarang gadis
itu lebih besar dan... semakin cantik. “Kamu masih menyimpannya?” Kevin
menatap mahkota di kepala Nadin.
Nadin hanya menjawabnya dengan senyum manisnya.
Kevin
lalu meraih tangan Nadin dan menuntunnya. “Lho, ini kan bukan jalan ke
sekolah?” tanya Nadin saat mereka berjalan ke arah sebaliknya.
“Memang tadi aku bilang mau ngajak kamu ke sekolah ya?” Kevin tersenyum misterius.
Kebingungan
Nadin terjawab saat mereka tiba di bukit kecil tempat dulu dia dan
Kevin biasa bermain. Selama ini mereka tidak pernah ke sini lagi sejak
usia mereka menginjak belassan tahun. Dan kini Kevin membangkitkan
kenangan masa lalu itu.
“Tempat ini masih cantik ya,” gumam Nadin takjub.
“Nggak,” jawab Kevin. “ada yang lebih cantik dari ini,” Kevin memandang lekat ke mata Nadin yang memantulkan cahaya bulan.
“Will you dancing with me, Princess?”